Kamis, 17 April 2014

penerapan teori asertif



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang162003p.jpg
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990)  Stresterhim dan Boer (1980), mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari oroentasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan.
Menurut Suterlinah Sukaji (1983), perilaku asertif adalah perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur, relative terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Sementara menurut Lange dan Jukubowski (1976), seperti yang dikutip oleh Calhoun (1990), perilaku asertif merupakan perilaku sesorang dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat.
Selanjutnya menurut Rimm da Masters (1979), seperti yang dikutip Hargie (1990) mendefinisikan perilaku asertif sebagai perilaku antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan kesejahteraan orang lain. Taubman (1976) yang dikutip oleh Kelley (1979) yang memberikan batasan assertiveness sebagai ekspresi dari perasaan-perasaan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan, belajar bertindak atas dasar perasaan, keinginan dan kebutuhan orang disekitarnya. Sedangkan Rathus (1981) memberi batasan asertifitas sebagai kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atu meremehkan orang lain.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.
1.2  Tujuan
1.      Tujuan Umum
Makalah ini bertujuan agar mahasiswa atau pembaca dapat menjelaskan tentang teknik asertif.
2.      Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa atau pembaca dapat menjelaskan tentang:
a)      Perbedaan antara perilaku pasif, agresif, dan asertif.
b)      Teknik-teknik asertif
c)      Unsur-unsur asertif
d)     Ciri-ciri asertif
e)      Petunjuk menjadi asertif
f)       Formula menjadi asertif





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Istilah Asertif dewasa ini sudah sangat populer “mengiang” ditelinga kita, terlebih-lebih istilah itu sering digunakan sebagai materi Assertiveness and social Skills training bagi para karyawan perusahaan untuk meningkatkan profesionalisme kerja. Banyak Pakar memberikan definisi yang berbeda tapi sama (satu makna) tentang asertif, berikut diantaranya :
a.       Asertif adalah sikap di mana seseorang mampu bertindak sesuai dengan keinginannya, membela haknya dan tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu, bersikap asertif juga berarti mengkomunikasikan apa yang kita inginkan secara jelas dengan menghormati tanpa menyakiti orang lain.
b.      Sikap asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, perasaan, dan kepentingan secara langsung kepada siapapun. Namun sikap asertif ini jangan disamakan dengan sikap agresif. Sikap asertif bersifat jujur, obyektif, tidak dipengaruhi oleh judgement, atau hal-hal yang bersifat emosionil.
c.       Asertif merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan kita secara jujur, wajar dan tidak dibuat-buat.
d.      Asertif adalah sarana untuk menjadikan hubungan kita lebih setara dan menghindari perasaan direndahkan yang kerap kali datang bilamana gagal mengekspresikan apa yang sungguh-sungguh kita dambakan.
e.       Asertif adalah Cara Efektif dalam mengekpresikan diri, mempertahankan harga diri, dan menunjukan rasa hormat kepada orang lain.
f.       Asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain. Jadi, berani untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran dengan apa adanya.
g.      Asertif adalah membina hubungan tanpa melakukan penolakan terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
h.      Asertif artinya menyadari bahwa andalah penentu perilaku anda sendiri dan anda dapat memutuskan apa yang anda lakukan atau tidak. Kita juga menyadari kondisi yang sama yang dihadapi orang lain dan tidak berusaha mengendalikan mereka.
i.        Asertif adalah cara kita mengekspresikan pikiran atau perasaan kita kepada orang lain tanpa bermaksud melukainya.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa asertif adalah sikap positif bukan sikap negatif, asertif bukan agresif yang selalu merugikan orang lain, asertif bukan perilaku permisif/pasif yang selalu merugikan diri sendiri, bahkan menurut penelitian di Amerika, dikatakan bahwa perilaku agresif dan permisif/pasif adalah animal behavior sedangkan asertif adalah human behavior. Jelaslah bahwa dengan Bersikap Asertif, kita akan mampu mempertahankan kredibiltas dan eksistensi diri sebagai pribadi yang berguna bagi lingkungannya. Sedangkan non asertif adalah sikap yang pasif dan tidak langsung. Sikap ini membiarkan orang lain mempengaruhi hak-hak kita dan bersikap tidak hormat terhadap kebutuhan kita. Memecahkan masalah secara lose-win solution.
2.2 Kepemimpinan Asertif
Kepemimpinan Asertifitas adalah kemampuan seseorang untuk memotifasi dan menyatakan secara langsung ide, opini, dan keinginan diri mereka secara jujur, dan tidak melanggar hak orang lain, untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Gaya kemimpinan   asertif (Assertive). Gaya kepemimpinan ini sifatnya lebih agresif dan mempunyai perhatian yang sangat besar pada pengendalian personal dibandingkan dengan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin tipe asertif lebih terbuka dalam konflik dan kritik. Pengambilan keputusan muncul dari proses argumentasi dengan beberapa sudut pandang sehingga muncul kesimpulan yang memuaskan.
2.3 Ciri-ciri dan Sikap Kepemimpinan Asertifitas
Fensterheim dan Baer, (1980) berpendapat seseorang dikatakan mempunyai sikap asertifitas apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan
2)      Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka
3)      Mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik
4)      Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, atau segala sesuatu yang tidak beralasan cenderung bersifat negatif
5)      Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan
6)      Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan cara yang tepat
7)      Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan
8)      Menerima keterbatasan yang ada dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan nya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).
2.4 Manfaat Prilaku Asertif
Dalam berprilaku asertif ini sangat bermanfaat dalam hal bagaimana seseorang terampil berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain secara jujur, sabar, percaya diri, dan tanpa menyinggung perasaan orang lain. Selain itu manfaat selanjutnya adalah :
1)      Memahami dan mengenal diri sendiri, orang lain, tim kerja, dan organisasi
2)      Meningkatkan pola berpikir : positif, percaya diri, tegas, tulus, terbuka, etis dan tidak menyinggung perasaan
3)      Mengembangkan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara asertifitas dengan orang lain dalam pergaulan, pekerjaan dan organisasi

2.5 Contoh dari Sikap Kepemimpinan Asertifitas
Contoh :
Seorang Kepala Ruangan bernama Ny. A yang sudah bekerja lama dirumah sakit swasta, yang sudah memimpin ruangan dahlia selama 3 tahun, ia mempunyai ciri kepemimpinan asertifitas. Setiap pagi Ny. A selalu mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada dengan cara bekerja sama dengan tim medis lain, agar ruangan tersebut lebih terasa kondusif. Selain itu Ny. A sering mengadakan pertemuan berkala dengan perawat ruangan lainnya yang berada di wilayah tanggung jawabnya, agar setiap permasalahan bisa teratasi dan dibicarakan dengan baik. Bukan hanya dengan tim kerja lainnya, Ny. A selalu memberikan pendekatan kepada setiap pasien yang dirawat untuk mengetahui keadaannya dan menampung keluhan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.
2.6 Komunikasi Asertif
Komunikasi Asertif adalah komunikasi yang terbuka, menghargai diri sendiri dan orang lain. Komunikasi assertive tidak menaruh perhatian hanya pada hasil akhir tapi juga hubungan perasaan antar manusia.
Perilaku asertif diperlukan, sedikitnya jika dilihat dari dua sudut pandang: (1) ini menunjukkan komunikasi yang terbuka, dewasa dan langsung, yang memungkinkan orang lain untuk melihat dan mengetahui perasaan seseorang, serta meningkatkan harga diri (Percell, 1997) dan (2) merupakan cara yang “tidak terlalu mahal” untuk menciptakan hubungan antar pribadi yang efektif daripada perilaku pasif atau agresif.
Ciri-ciri Komunikasi Asertif adalah :
1.    Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain
2.    Mendengarkan pendapat orang lain dan memahami
3.    Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain
4.    Mencari solusi bersama dan keputusan
5.    Menghargai diri sendiri dan orang lain, mengatasi konflik
6.    Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati
7.    Mempertahankan hak diri
8.    He differences between Assertive, Aggressive and Passive
9.    Bahasa tubuh.
2.7 Perilaku Asertif Pada Perawat
Karakteristik pekerjaan keperawatan sedang berubah, sehingga tercipta tuntutan untuk bertanggung jawab dan wewenang yang lebih besar pada semua tingkat profesi keperawatan. Kebutuhan ini merubah konsep peran dan konsep diri profesional dari para praktisi keperawatan.
Super (1957) mengatakan bahwa pemilihan karir adalah sebuah cara untuk implementasi konsep diri seseorang. Karenanya, keterlibatan dengan pekerjaan yang memungkinkan ungkapan diri yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi dapat menjadi sebuah fungsi dan gaya kepribadian, selain juga merupakan sumber dan kesempatan.
Terdapat beberapa alasan mengapa pelatihan sikap asertif menarik minat para perawat : (1) para perawat yang lebih menyukai sikap reaktif mungkin perlu lebih mengenal dan mahir dalam ketrampilan dan bahasa yang lebih aktif berpartisipasi dalam pekerjaan mereka. (2) mereka yang mendukung peran perawat yang professional dan primer mungkin akan menemukan bahwa pelatihan sikap asertif akan berguna untuk memungkinkan perkembangan sikap-sikap perilaku keperawatan yang bertanggung jawab, serta ketrampilan komunikasi yang efektif, dan (3) para professional keperawatan yang peduli pada pandangan masyarakat terhadap keperawatan mungkin dapat menemukan cara untuk mengkomunikasikan sikap-sikap dan harapan-harapan mereka dengan lebih jelas.
2.8 Tujuan Dari Pelatihan Sikap Asertif
Wheeler (1977) menunjukan bahwa tujuan dari pelatihan sikap asertif adalah untuk mengajar orang tentang bagaimana menggunakan hak mereka, untuk membantu mereka dalam mengembangkan berbagai perilaku, dan untuk membantu mereka untuk bertindak menurut minat terbaik mereka sendiri. Karena pelatihan sikap asertif ini adalah metoda perilaku (bukan metoda yang berorientasi pada pemahaman), maka tujuannya lebih bersifat induktif daripada deduktif. Tujuan dari banyak bentuk psiko-terapi manusia : yaitu kemudahan dalam hubungan interpersonal; keselarasan pikiran, perasaan, dan perilaku; dan kemampuan menerima tanggung jawab atas tindakan seseorang serta untuk menerima akibat dari tindakan tersebut.
2.9 Unsur – Unsur Sikap Asertif
Secara garis besar, sikap asertif dapat terbagi menjadi dua unsure : verbal dan nonverbal. Untuk di kategorikan sebagai asertif, sebuah komunikasi harus mengandung kedua unsure ini.mungkin saja seseorang mengatakan semua kata – kata yang benar, misalnya “Saya ingin anda mengembalikan baju yang anda pinjam”, tetapi ia mengatakannya dengan cara yang agresif (tangan di pinggang, mata membelalak, suara tinggi), atau cara yang pasif (suarakecil, mata sedih, nada memohon) sehingga penerima pesan merasa tersinggung atau tidak nyaman.
Agar  semua pesan benar-benar asertif, kata-kata dan irama di balik kata-kata harus berjalan bersama. Misalnya, orang telah belajar bahwa kelemah lembutan tidak diungkapkan dengan nada suara yang keras, bahwa pembicaraan intim tidak mengambil tempat di antara dua orang yang terpisah 5 meter, dan bahwa marah tidak diungkapkan dengan tersenyum. Sebenarnya, jika kata-kata dan irama tidak seiring maka akan sulitlah untuk mengetahui mana yang harus di percaya. Akibatnya timbul kebingungan, dan respon yang wajar dari pendengar pesan yang campur aduk ini adalah penghindaran diri, menarik diri, marah atau beberapa bentuk jarak interpersonal lainnya.
a.        Unsur Nonverbal
Serber (1977) menyebutkan bahwa unsure non-verbal dari perilaku adalah :
1)      Kekerasan suara
Berteriak atau berbisik bukanlah sikap asertif. Nada suara tidak tergantung pada isi pesan yang dikirim. Nada yang asertif harus keras dan tegas sehingga terdengar dengan jelas, tetapi tidak boleh terlalu keras sehingga memekakkan telinga penerima.
2)      Kelancaran mengatakan kata-kata
Kelancaran mengatakan kata-kata juga tidaak bergantung pada isi pesan. Orang yang menggunakan terlalu banyak penghentian atau kata-kata “pengisi” seperti “uh”, “er”, “huh”, “anda tahu”, “seperti”, dan sebagainya cenderung dilihat sebagai orang yang ragu, sedangkan orang yang bicara terlalu cepat sering di alami oleh orang lain sebagai orang yang terlalu membebani. Yang asertif adalah kecepatan bicara yang sedang dan tidak terputus-putus.
3)      Kontak mata
Tidaklah mungkin untuk menjadi asertif bila tidak melihat kepada penerima yang di harapkan. Tanpa kontak mata, tidaklah terdapat cara untuk mengukur sebuah respon, dan penerima pesan di paksa untuk masuk kepada pemberi pesan supaya memberikan umpan balik komunikasi. Tentu saja, membelalak atau menatap tajam adalah hal yang intrusive. Kontak mata yang asertif berarti bahwa seseorang mampu memandang wajah penerima secara terus-menerus  tetapi tanpa intensitas tertentu yang membuat penerima merasa di tantang.
4)      Ungkapan wajah
Orang yang terkekeh-kekeh saat marah atau mengerutkan dahi saat mengatakan sayang, akan “mengkhianati” isi dari kata-kata mereka. Bila merah, janganlah tersenyum; bila menunjukkan penghargaan, tersenyumlah. Meskipun ungkapkan wajah sulit untuk di ukur atau di gambarkan, kebanyakan orang telah tersosialisasi untuk mampu memilih ungkapan wajah yang cocok untuk arti kata-kata mereka. Bila seseorang tidak mampu untuk menyelaraskan kata-kata dengan irama, seringkali hal ini merupakan tanda dari rasa tidak nyaman atau kecemasan; karena keselarasan dan kecemasan merupakan reaksi-reaksi eksklusif yang saling menguntungkan, maka menjadi selaras dapat membantu mengurangi kecemasan.
5)      Ungkapan tubuh
Seperti ungkapan wajah, cara seseorang berdiri, duduk, atau bergerak sebenarnya menyampaikan sekumpulan sikap yang kompleks. Seseorang yang duduk membungkuk dapat di lihat sebagai marah, tidak berminat, atau ketakutan. Orang yang asertif dalam ungkapan tubuhnya akan tampak santai tetapi tidak membungkuk, berdiri tegak tanpa menjadi kaku, dan menggunakan tangan serta bahu untuk menekankan pembicaraan mereka tanpa menjadi terlalu memaksa atau kasar.
6)      Jarak
Seberapa jauh seseorang berdiri dari orang lain ketika berinteraksi akan berbeda-beda dalam setiap kebudayaan dan setiap orang. Istilah gelembung telah di terapkan untuk batas tidak kasat mata yang di gunakan oleh seseorang untuk melindungi dirinya dari intrusi orang lain (Sommer, 1969).
b.        Unsur Verbal
Apa yang di katakan sama pentingnya dengan bagaimana cara seseorang mengatakannya. Misalnya, kemungkinan kecil bahwa seseorang yang membuat pernyataan atau permintaan yang tidak jelas akan mendapat respon yang sesuai. Si pendengar belum tentu tidak responsive, tetapi pesannya terlalu samar untuk mendapatkan respon yang jelas. Cooley dan Hollandsworth (1977) telah menyebutkan tiga unsure verbal dari pernyataan yang asertif :
1)      Mengatakan tidak atau menyatakan sikap
2)      Meminta bantuan atau mempertahankan hak
3)      Mengungkapkan perasaan
Unsur verbal pernyataan yang asertif.
Mengatakan “tidak” atau menyatakan sikap
a.       Posisi : Pernyataan, biasanya pro atau kontra tentang sikap seseorang tentang sebuah isu atau respon seseorang terhadap sebuah permintaan atau tuntutan
b.      Alasan : Pernyataan diajukan untuk menjelaskan atau membenarkan posisi, permintaan, atau perasaan seseorang
c.       Pemahaman : Pernyataan mengenali dan menerima posisi, permintaan, atau perasaan orang lain.
Meminta bantuan atau mempertahankan hak
a.       Masalah : pernyataan menggambarkan suatu situasi yang tidak memuaskan yang perlu di rubah.
b.      Permintaan : pernyataan meminta sesuatu yang di perlukan untuk mengatasi masalah.
c.       Penjelasan : pernyataan dirancang untuk menghasilkan informasi tambahan atau spesifik tentang masalah yang terlibat.
Ungkapan perasaan
a.       Ungkapan pribadi : pernyataan mengkomunikasikan emosi, perasaan, atau ungkapan yang cocok lainnya, seperti ucapan terima kasih, kasih sayang, atau kekaguman.
Mengatakan tidak.
Pernyataan asertif dapat berupa inisiasi atau reaksi. Terdapat cara-cara untuk mengatakan tidak secara asertif sebagai respon terhadap permintaan orang lain atau kebutuhan orang lain.
Menunjukkan sikap.
Unsur dari asertif ini bisa merupakan inisiasi atau respon terhadap suatu situasi. Unsur kunci pada area ini adalah kejelasan dari posisi seseorang, penghargaan diri dengan mana posisi tersebut di nyatakan, dan pemahaman tentang posisi orang lain: “saya tahu bahwa anda yakin Nona Lloyd sedang dalam pemulihan. Tetapi saya tidak yakin bahwa ia telah siap untuk di pulangkan, dan saya tidak mendukung kepulangannya”.
2.10 Teknik – Teknik Sikap Asertif
Kebanyakan orang bervariasi dalam sikap asertifnya dari situasi satu ke situasi lainnya, dan derajat keintiman yang di bagikan kepada orang lain juga berpengaruh pada variasi ini. Mungkin saja seseorang dapa bersifat asertif dengan pasangan hidupnya, tetapi berubah menjadi pendiam di hadapan mertuanya. Bisa juga bersikap asertif terhadap orang asing lebih mudah dari pada harus membatalkan sebuah pertemuan dengan temannya karena ingin tinggal di rumah. Salah satu perbedaan yang lebih umum dari sikap asertif di dalam diri seseorang, dan bukan diantara beberapa pribadi, adalah pada bagaimana pemimpin berespon terhadap bukan rekan kerjanya, yaitu mereka yang lebih berkuasa terhadap mereka yang kurang berkuasa. Jika di tambah dengan unsure perbedaan latar belakang pendidikan, maka akan dapat di mengerti bagaimana sikap asertif dapat menjadi membingungkan dan sulit.
a.      Bersikap Asertif Terhadap Figur Atasan
Banyak orang di besarkan dan di didik untuk “menghargai yang lebih tua”mdan “mematuhi orang tua”. Meskipun hal ini tidak mendapat tantangan pada masa kanak – kanak yang masih bergantung pada orang tuanya dan guru, tetapi sikap ini bukan merupakan nasihat yang tepat bagi orang dewasa yang harus mengarahkan dirinya sendiri dan bertanggung jawab untuk hidup mereka. Jarang seseorang akan menyelamatkan anak buah dari atasannya yang kejam,dan lebih jarang lagi bahwa seorang atasan akan berubah hanya karena harapan anak buahnya. Anak buah harus menolong atasannya untuk mengerti bahwa mereka bukanlah alas kaki atau anak – anak atau alat pasif yang dapat digunakan untuk bermacam – macam hal. Meskipun kebanyakan atasan atau pengawas perawat secara kognitif mengetahui hal ini, tetapi beberapa dari mereka tidak mahir dalam relasi antar pribadi. Bersikap asertif terhadap atasan atau pengawas dapat menjadi peringatan yang halus bahwa anak buah mempunyai hak untul di perlakukan sebagai orang dewasa, meskipun atasan mempunyai posisi kekuasaan lebih bayak tanggung jawab dan wewenangnya.
b.      Bersikap Asertif Terhadap Anak Buah
Orang-orang belajar bagaimana menjadi pimpinan dan orang tua dengan memperhatikan model peran. Jika nasib anda mujur dan menyediakan latihan – latihan yang baik melalui pimpinan, manajer, orang tua, dan profesi pelayanan, maka keterampilan interpersonal yang efektif akan tumbuh dan berkembang untuk selamanya,tetapi, karena nasib tidak selalu mujur dan dalam saat – saat stress, akan mudah untuk “menularkan” sikap agresif dan manipulatif yang kita pelajari di masa lalu. Bila orang bersikap asertif terhadap atasan, akan lebih sedikit timbunan kemarahan yang dapat tertumpah ketika berkontak dengan pegawai, pasien, dan anak – anak; lebih dari itu,akan kecil kemungkinan untuk melupakan bahwa orang lain yang mempunyai kekuasaan lebih kecil juga mempunyai hak untuk menentukan respon mereka sendiri.
2.11 Komunikasi Agresif
Komunikasi ini dapat mengurangi hak orang lain dan cenderung untuk merendahkan / mengendalikan / menghukum orang lain. Komunikasi ini menenggelamkan hak orang lain. Contoh komunikasi agresif : "Lakukan saja!".
Ciri-cirinya adalah :
1.      Ingin kemauan dan pendapatnya diikuti
2.      Memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan
3.      Keras dan bermusuhan
4.      Menyerang secara fisik atau verbal
5.      Interupsi
6.      Intimidasi
7.      Ingin menang dengan segala cara
8.      Suka memakai kambing hitam
9.      Suka memakai figur "Big Boss"
Komunikasi agresif memiliki satu buah sub yaitu Komunikasi Aggresif tidak Langsung yang berupaya untuk memaksa orang lain melakukan hal yang kita kehendaki tetapi mereka tidak menghendakinya. Istilah "pisau dibalik topeng senyuman" mungkin cocok dengan komunikasi agresif tidak langsung karena cara-cara mereka umumnya sopan, tenang, manipulative/menjebak, merendahkan orang lain, dan sabotase. Orang yang melakukan aggressive communication mungkin pada awalnya merasa puas, menang/superior dan cenderung untuk mengulangi tindakannya. Tetapi untuk jangka panjangnya mereka dapat merasa bersalah (saat memikirkan tindakannya), malu, dan ditinggalkan teman. Pada akhirnya akan terus menyalahkan orang lain atau system. Balas dendam mungkin dapat dilakukan oleh orang lain yang sebelumnya disudutkan.
2.12 Passive Communication (Submissive)
Komunikasi ini merupakan lawan dari komunikasi aggressive dimana orang tersebut cenderung untuk mengalah dan tidak dapat mempertahankan kepentingannya sendiri. Bahkan hak mereka cenderung dilanggar namum dibiarkan. Mereka cenderung untuk menolak secara pasif (dengan ngomel dibelakang misalnya).
Ciri-ciri komunikasi pasif ini adalah:
1.     Orang yang jarang mengungkapkan keinginan dan kebutuhan atau perasaan
2.      Mengikuti tuntutan dan kemauan orang lain, ingin menghindari konflik
3.      Tidak mampu mempertahankan hak dan pribadinya
4.      Selalu mengedepankan orang lain
5.      Minta maaf berlebihan
6.      Marah kecewa, frustasi dipendam
7.      Tidak tahu apa yang diinginkan
8.      Tidak bisa ambil keputusan
9.      Selalu mencari-cari alasan atas tindakan                          
Untuk jangka pendek, komunikasi ini bisa mengakibat rasa lega, terhindar dari rasa bersalah, bangga, dan kasihan pada diri sendiri. Namun untuk jangka panjang dapat kehilangan percaya diri dan hormat pada diri sendiri.
2.13 Bahasa Tubuh Untuk Tiga Jenis Komunikasi
1.  Assertive
2.  Aggressive
3.  Pasif

Posture :
Tegak lurus
Condong ke depan
Agak mundur
Head:
Santai dan tidak kaku
Mendongak ke atas
Menunduk
Eyes :
Langsung, tidak melototi, pandangan bagus, biasa/santai
Melototi seolah-olah akan mengamuk
Tidak berani menatap.
Face :
Ekspresi sesuai kata-kata yang keluar
Tegas
Tersenyum selalu bahkan sewaktu kesal
Voice :
Sesuai dengan kontak
Keras
Ragu/lembut, cenderung berbicara setelah lawan selesai berbicara
Arms/hands :
Santai, bergerak bebas
Terkontrol, jari menunjuk menancap ke suatu objek, terkepal keras
Diam… tidak bisa bergerak
Movement/ walking :
Terukur, sesuai
Lambat dan keras atau cepat, bebas, Keras
Lambat dan ragu-ragu atau cepat tapi terkesan terburu-buru


Perilaku assertive memiliki manfaat :
1.      Meningkatkan percaya diri dalam mengekspresikan diri sendiri
2.      Dapat bernegosiasi lebih produktif dengan orang lain
3.      Dapat merubah situasi kerja yang negatif menjadi positif
4.      Meningkatkan hubungan antar manusia pada pekerjaan dan mengurangi kesalahpahaman
5.      Meningkatkan pengembangan diri dan kepuasan diri pada pekerjaan/karir sesuai dengan kebutuhan, gaya dan kemampuan
6.      Mampu membuat keputusan dan lebih mempunyai peluang mendapatkan apa yang dicari dalam hidup
Hambatan yang didapat saat mencoba untuk assertive:
1.      Tindakan dan cara berpikir negatif yg membatasi peluang Anda
2.      Conflict : Takut menghadapi konflik sehingga menghindari tanggapan assertif dalam situasi yang menentukan
3.      Keterampilan komunikasi. Ketidakmampuan menanggapi berbagai situasi mengakibatkan emosi, pikirkan dan kecemasan yang negative
4.      Race, tradition, education sewaktu kita masih anak-anak










BAB III
ROLE PLAY
Perawat                 : M.Trias Ginanjar
Kepala Ruangan  : Diah Puji Lestari
Dokter                   : Anugrah Dwi Priyono
Pasien                    : Cep Lubis
Istri Pasien            : Siti Aminah
Ø  Prolog
Seorang Kepala Ruangan bernama Diah yang sudah bekerja lama dirumah sakit swasta, yang sudah memimpin ruangan dahlia selama 3 tahun, ia mempunyai ciri kepemimpinan asertifitas. Setiap pagi ia selalu mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada dengan cara bekerja sama dengan tim medis lain, agar ruangan tersebut lebih terasa kondusif. Selain itu ia sering mengadakan pertemuan berkala dengan perawat ruangan lainnya yang berada di wilayah tanggung jawabnya, agar setiap permasalahan bisa teratasi dan dibicarakan dengan baik. Bukan hanya dengan tim kerja lainnya, ia selalu memberikan pendekatan kepada setiap pasien yang dirawat untuk mengetahui keadaannya dan menampung keluhan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Pagi itu di ruang perawat
Kepala ruangan      : pagi kang, akang yang dines pagi ini?
Perawat                  : iya teh, pagi, saya yang dines pagi disini sekarang.
Kepala ruangan      : ohh iiya, kemarin saya mengadakan pertemuan dengan perawat perawat yangn bertugas diruang ini, untuk agar lebih kondusif saya membagi bagi ruangan pada setiap perawat, saya sudah membagi ruangan kepada perawat yang lain untuk memegang ruang dahlia kamar 1 dan kamar 3, dan saya menempatkan akang di ruang dahlia kamar 2, kemarin kan akangnya tidak ada, jadi saya balum sempat membari tahu. Bagaimana? Apakah akang bisa terima dengan pembagian ruangan ini?
Perawat                  : oh iya teh, saya sangat menerima dengan pendapat teteh tentang pembagian ruangan, karena kita dapat lebih focus dengan pasien pasien kita.
Kepala ruangan      : iya terima kasih kalau akang sudah menyetujui, masukan saya.
Perawat                  : iya teh.
Dan ketika itu di sebuah ruangan dahlia kamar 2 ada pasien yang bernama Tn.X ia demam sudah berhari-hari demam tinggi, dan Tn.X di bawa ke rumah sakit tadi malam tetapi demam itu masih belum juga menurun.
Pagi itu di ruang pasien
Pasien                     : bu,, ibuuu, panas bu
Istri pasien              : iya pak, bapak kenapa?
Pasien                     : panas bu,
Istri pasien              : ya ampun pak koq makin panas gini ya pak? Ibu kompres ya?
Pasien                     : iya bu.
Lalu tiba-tiba dokter dan perawat datang ke ruang pasien untuk visit
(tok… tok… tok)
Dokter                    : assalamualaikum pak , bu bagaimana keadaannya bapak sekarang?
Istri pasien             : walaikumsalam dok, ini sepertinya panasnya belum juga turun dok,dari semalam suami saya juga tidak dapat tidur karena panasnya.
Dokter                    : coba saya periksa dulu ya pak.
Pasien                     : iya dok
Istri pasien             : bagaimana keadaan suami saya dok?
Dokter                    : demamnya sangat tinggi bu,saya akan memberikan resep obat untuk bapaknya untuk menurunkan demamnya.
Dokter                    : kang demam pada Tn.X ini sangat tinggi, nanti saya akan resepkan obat nya tolong di berikan ya.
Perawat                  : baik dok. Lalu sekarang tindakan apa yang mesti diberikan dok?
Dokter                    : kita bicarakan saja di ruang perawat
Perawat                  : ohh iya dok, kalau begitu kita pamit kembali ke ruangan dulu ya bu, pak, nanti saya kembali lagi untuk memberikan obat.
Di ruang perawat
Kepala ruangan      : bagiamana kondisi pasien-pasien sekarang?
Perawat                  : iya pasien yang lain sudah lebih baik, Cuma tadi malam ada pasien baru, bapak itu demam, dan sampai sekarang demamnya belum berkurang.
Kepala ruangan      : oh begitu, akang dah coba buat kompres?
Perawat                  : tadi waktu saya dan dokter ke ruangan Tn.X sedang di kompres oleh istrinya. Tapi ketika diperiksa suhu tubuhnya masih juga belum turun.
Kepala ruangan      : emmm dok bagaimana ini dengan pasien Tn.X, apakah sebaikknya kita cepat berikan obat?
Dokter                    : iya teh, ini saya sudah meresepkan penurun panasnya, dan nanti akang tolong berikan ya pukul 9.30.
Perawat                  : iya baik dok.
Dokter                    : baik kalau begitu saya pamit ke ruangan lain dulu.
Kepala ruangan      : iya dok terima kasih
Pukul 9.30 waktunya perawat memberikan obat yang sudah di resepkan oleh dokter untuk Tn.X.
(tok..tok..tok)
Perawat                  : assalamualaikum pak, bu.
Pasien dan istri       : walaikum salam kang.
Perawat                  : bapaknya masih panas ya bu ya, sekarang waktunya bapak untuk minum obat ya, agar demamnya cepat reda.
Pasien                     : iya
Perawat                  : ini diminum dulu pak.
Perawat                  : sudah pak? Kalau begitu silahkan lanjutkan lagi pak, saya pamit ke ruangan dulu, nanti saya akan kembali lagi untuk melihat keadaan bapak. Saya permisi dulu ya pak, bu, asslamualaikum.
Istri pasien             : waliakumsalam
Pukul 10.00 terlihat di ruang perawat sedang ngobrol antara perawat dan kepala ruangan
Kepala ruangan      : kang sakarang kita ke ruangan dahlia kamar 2, kita cek kondisi, Tn.X.
Perawat                  : iya kang ayo.
Perawat dan kepala ruangan tiba diruang pasien
Perawat                  : assalamualaikum
Kepala ruangan      : selamat siang pak, bu..
Pasien                     : siang
Kepala ruangan      : bagaimana perasaannya sekarang?
Istri Pasien             : bengini , dari subuh tadi demamnya belum turun juga.
Kepala ruangan      : demamnya masih lumayan yah, suster pasien ini sudah diberikan obat?
Perawat                  : sudah teh, obatnya baru diberikan tepatnya jam 9.30 tadi diberikan obat yang termasuk penurun panas 1 tablet, sesuai yang telah dokter resepkan.
Kepala ruangan      : ibu bapaknya masih sedikit panas ya bu ya? (sambil memegang pasien)
Istri pasien             :iya ni kasihan suami saya tidak bisa istirahat.
Kepala ruangan      : begini ibu, ini kan obatnya sudah diminum jadi kita lihat hasilnya, obatnya baru bekerja jika 5 menit – 1 jam berbeda dengan obat injeksi atau suntik yang terbilang cepat. Sambil menunggu reaksi obatnya ibu bisa mengompres suami ibu dulu dengan air hangat.
Istri pasien             :iya saya sudah kompres di dahinya
Kepala ruangan      : jangan Cuma di dahi ibu, ini akan lebih berpengaruh jika ibu kompresnya dibawah kedua ketiak atau perut. Dan ini juga kopresnya harus sering-sering diganti. Bagaimana menurut pendapat akang?
Perawat                  :saya rasa juga begitu teh. Lebih berpengaruh jika dikopres di bawah kedua ketiak atau perut dari pada di dahi.
Kepala ruangan      : kalau begitu saya ambil dulu alatnya ya bu, untuk mengompres bapaknya.
Istri pasien             : iya ,terima kasih banyak.
Kepala ruangan      :akang nanti minta tolong pasien ini diawasi yah kalau bisa dibantu diarahkan cara kompresnya
Perawat                  : iya teh
Kepala ruangan      : mari kita siapkan, permisi dulu ya bu pak, assalamualaikum
Pasien & istri pasien: walaikumsalm.

Dan akhirnya sesuai pendapat kepala ruangan untuk mengompres Tn.X di bagian bawah ketiak dan perut, tindakan pun telah dilakukan, dan pasien bisa lebih tenang, dan bisa beristirahat

TAMAT











BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Komunikasi Asertif adalah komunikasi yang terbuka, menghargai diri sendiri dan orang lain. Komunikasi Agresif Komunikasi ini dapat mengurangi hak orang lain dan cenderung untuk merendahkan / mengendalikan / menghukum orang lain. Komunikasi ini menenggelamkan hak orang lain.
Tujuan dari pelatihan sikap asertif adalah untuk mengajar orang tentang bagaimana menggunakan hak mereka, untuk membantu mereka dalam mengembangkan berbagai perilaku, dan untuk membantu mereka untuk bertindak menurut minat terbaik mereka sendiri. Terdapat beberapa alasan mengapa pelatihan sikap asertif menarik minat para perawat: (1) para perawat yang lebih menyukai sikap reaktif mungkin perlu lebih mengenal dan mahir dalam ketrampilan dan bahasa yang lebih aktif berpartisipasi dalam pekerjaan mereka. (2) mereka yang mendukung peran perawat yang professional dan primer mungkin akan menemukan bahwa pelatihan sikap asertif akan berguna untuk memungkinkan perkembangan sikap – sikap perilaku keperawatan yang bertanggung jawab, serta ketrampilan komunikasi yang efektif, dan (3) para professional keperawatan yang peduli pada pandangan masyarakat terhadap keperawatan mungkin dapat menemukan cara untuk mengkomunikasikan sikap – sikap dan harapan – harapan mereka dengan lebih jelas.
4.2 Saran
a.       Perawat harus mampu menguasai teknik-teknik asertif agar komunikasi yang dihasilkan antara perawat dan klien lebih berkualitas.
b.      Untuk menghindari konflik yang berkepanjangan, seorang perawat tidak boleh bersikap pasif maupun agresif tapi harus bersikap asertif.                                                                

DAFTAR PUSTAKA
*         ml.scribd.com/doc/182322324/menej-ASERTIF-docx/09/04/2014/
*        nursalam.2002.manajemen keperawatan:penerapan dalam praktik keperawatan professional.jakarta: salemba medika