BAB I
PENDAHULUAN
Perilaku asertif merupakan
terjemahan dari istilah assertiveness
atau assertion, yang artinya titik
tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990) Stresterhim dan Boer (1980), mengatakan bahwa
orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat
dari oroentasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat
mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan
berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang
asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah
tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar
mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah
atau hal yang telah dikemukakan.
Menurut Suterlinah Sukaji (1983), perilaku asertif adalah perilaku seseorang
dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur,
relative terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Sementara
menurut Lange dan Jukubowski (1976), seperti yang dikutip oleh Calhoun (1990), perilaku asertif merupakan perilaku
sesorang dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran,
perasaan, dan keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat.
Selanjutnya menurut Rimm da Masters
(1979), seperti yang dikutip Hargie (1990) mendefinisikan perilaku asertif
sebagai perilaku antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam
mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan
kesejahteraan orang lain. Taubman (1976) yang dikutip oleh Kelley (1979) yang
memberikan batasan assertiveness sebagai
ekspresi dari perasaan-perasaan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan,
belajar bertindak atas dasar perasaan, keinginan dan kebutuhan orang
disekitarnya. Sedangkan Rathus (1981) memberi batasan asertifitas sebagai
kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak
permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atu meremehkan orang
lain.
Berdasarkan uraian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam
hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan,
pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa
perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri
dan orang lain.
1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Makalah ini
bertujuan agar mahasiswa atau pembaca dapat menjelaskan tentang teknik asertif.
2.
Tujuan
khusus
Adapun
tujuan khusus pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa atau pembaca dapat
menjelaskan tentang:
a) Perbedaan
antara perilaku pasif, agresif, dan asertif.
b) Teknik-teknik
asertif
c) Unsur-unsur
asertif
d) Ciri-ciri
asertif
e) Petunjuk
menjadi asertif
f) Formula menjadi
asertif
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Istilah
Asertif dewasa ini sudah sangat populer “mengiang” ditelinga kita,
terlebih-lebih istilah itu sering digunakan sebagai materi Assertiveness and
social Skills training bagi para karyawan perusahaan untuk meningkatkan
profesionalisme kerja. Banyak Pakar memberikan definisi
yang berbeda tapi sama (satu makna) tentang asertif, berikut diantaranya :
a.
Asertif adalah
sikap di mana seseorang mampu bertindak sesuai dengan keinginannya, membela
haknya dan tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Selain itu, bersikap asertif
juga berarti mengkomunikasikan apa yang kita inginkan secara jelas dengan
menghormati tanpa menyakiti orang lain.
b.
Sikap asertif
adalah kemampuan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, perasaan, dan
kepentingan secara langsung kepada siapapun. Namun sikap asertif ini jangan
disamakan dengan sikap agresif. Sikap asertif bersifat jujur, obyektif, tidak
dipengaruhi oleh judgement, atau hal-hal yang bersifat emosionil.
c.
Asertif merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan kita
secara jujur, wajar dan tidak dibuat-buat.
d.
Asertif adalah
sarana untuk menjadikan hubungan kita lebih setara dan menghindari perasaan
direndahkan yang kerap kali datang bilamana gagal mengekspresikan apa yang
sungguh-sungguh kita dambakan.
e.
Asertif adalah
Cara Efektif dalam mengekpresikan diri, mempertahankan harga diri, dan
menunjukan rasa hormat kepada orang lain.
f.
Asertif adalah
kemampuan mengekspresikan hak, pikiran, perasaan, dan kepercayaan secara
langsung, jujur, terhormat, dan tidak mengganggu hak orang lain. Jadi, berani
untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan, dan pikiran
dengan apa adanya.
g.
Asertif adalah
membina hubungan tanpa melakukan penolakan terhadap diri sendiri maupun
terhadap orang lain.
h.
Asertif artinya
menyadari bahwa andalah penentu perilaku anda sendiri dan anda dapat memutuskan
apa yang anda lakukan atau tidak. Kita juga menyadari kondisi yang sama yang
dihadapi orang lain dan tidak berusaha mengendalikan mereka.
i.
Asertif adalah
cara kita mengekspresikan pikiran atau perasaan kita kepada orang lain tanpa
bermaksud melukainya.
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa asertif adalah sikap
positif bukan sikap negatif, asertif bukan agresif yang selalu merugikan orang lain, asertif bukan perilaku permisif/pasif
yang selalu merugikan diri sendiri, bahkan menurut penelitian di Amerika,
dikatakan bahwa perilaku agresif dan permisif/pasif adalah animal behavior
sedangkan asertif adalah human behavior. Jelaslah bahwa dengan Bersikap Asertif, kita akan
mampu mempertahankan kredibiltas dan eksistensi diri sebagai pribadi yang
berguna bagi lingkungannya. Sedangkan non asertif adalah sikap yang pasif dan tidak
langsung. Sikap ini membiarkan orang lain mempengaruhi hak-hak kita dan
bersikap tidak hormat terhadap kebutuhan kita. Memecahkan masalah secara
lose-win solution.
2.2 Kepemimpinan Asertif
Kepemimpinan Asertifitas adalah kemampuan
seseorang untuk memotifasi dan menyatakan secara langsung ide, opini, dan
keinginan diri mereka secara jujur, dan tidak melanggar hak orang lain, untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Gaya
kemimpinan asertif (Assertive). Gaya kepemimpinan ini sifatnya lebih agresif dan
mempunyai perhatian yang sangat besar pada pengendalian personal dibandingkan
dengan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin tipe asertif lebih terbuka dalam
konflik dan kritik. Pengambilan keputusan muncul dari proses argumentasi dengan
beberapa sudut pandang sehingga muncul kesimpulan yang memuaskan.
2.3 Ciri-ciri
dan Sikap Kepemimpinan Asertifitas
Fensterheim dan Baer, (1980) berpendapat seseorang dikatakan mempunyai
sikap asertifitas apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1)
Bebas
mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan
2)
Dapat
berkomunikasi secara langsung dan terbuka
3)
Mampu
memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik
4)
Mampu
menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, atau
segala sesuatu yang tidak beralasan cenderung bersifat negatif
5)
Mampu
mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan
6)
Mampu
menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
dengan cara yang tepat
7)
Memiliki
sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan
8)
Menerima
keterbatasan yang ada dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa
yang diinginkan nya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan
tetap memiliki harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).
2.4 Manfaat Prilaku Asertif
Dalam berprilaku asertif ini sangat bermanfaat
dalam hal bagaimana seseorang terampil berkomunikasi atau berinteraksi dengan
orang lain secara jujur, sabar, percaya diri, dan tanpa menyinggung perasaan
orang lain. Selain itu manfaat selanjutnya adalah :
1)
Memahami dan
mengenal diri sendiri, orang lain, tim kerja, dan organisasi
2)
Meningkatkan
pola berpikir : positif, percaya diri, tegas, tulus, terbuka, etis dan tidak
menyinggung perasaan
3)
Mengembangkan
kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara asertifitas dengan orang lain
dalam pergaulan, pekerjaan dan organisasi
2.5 Contoh dari Sikap Kepemimpinan Asertifitas
Contoh :
Seorang
Kepala Ruangan bernama Ny. A yang sudah bekerja lama dirumah sakit swasta, yang
sudah memimpin ruangan dahlia selama 3 tahun, ia mempunyai ciri kepemimpinan
asertifitas. Setiap pagi Ny. A selalu mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang
ada dengan cara bekerja sama dengan tim medis lain, agar ruangan tersebut lebih
terasa kondusif. Selain itu Ny. A sering mengadakan pertemuan berkala dengan
perawat ruangan lainnya yang berada di wilayah tanggung jawabnya, agar setiap
permasalahan bisa teratasi dan dibicarakan dengan baik. Bukan hanya dengan tim
kerja lainnya, Ny. A selalu memberikan pendekatan kepada setiap pasien yang
dirawat untuk mengetahui keadaannya dan menampung keluhan serta membantu
memecahkan masalah yang dihadapinya.
2.6 Komunikasi
Asertif
Komunikasi
Asertif adalah komunikasi yang terbuka, menghargai diri sendiri dan orang lain.
Komunikasi assertive tidak menaruh perhatian hanya pada hasil akhir tapi juga
hubungan perasaan antar manusia.
Perilaku asertif
diperlukan, sedikitnya jika dilihat dari dua sudut pandang: (1) ini
menunjukkan komunikasi yang terbuka, dewasa dan langsung, yang memungkinkan
orang lain untuk melihat dan mengetahui perasaan seseorang, serta meningkatkan
harga diri (Percell, 1997) dan (2) merupakan cara yang “tidak terlalu mahal”
untuk menciptakan hubungan antar pribadi yang efektif
daripada perilaku pasif atau agresif.
Ciri-ciri Komunikasi Asertif adalah :
1. Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain
2. Mendengarkan pendapat orang lain dan memahami
3. Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain
4. Mencari solusi bersama dan keputusan
5. Menghargai diri sendiri dan orang lain, mengatasi konflik
6. Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati
7. Mempertahankan hak diri
8. He differences between Assertive, Aggressive and
Passive
9. Bahasa tubuh.
2.7 Perilaku
Asertif Pada Perawat
Karakteristik
pekerjaan keperawatan sedang berubah, sehingga tercipta tuntutan untuk bertanggung jawab
dan wewenang yang lebih besar pada semua tingkat profesi keperawatan. Kebutuhan
ini merubah konsep peran dan konsep diri profesional dari para praktisi
keperawatan.
Super (1957)
mengatakan bahwa pemilihan karir adalah sebuah cara untuk implementasi konsep
diri seseorang. Karenanya, keterlibatan dengan pekerjaan yang memungkinkan
ungkapan diri yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi dapat menjadi
sebuah fungsi dan gaya kepribadian, selain juga merupakan sumber dan
kesempatan.
Terdapat
beberapa alasan mengapa pelatihan sikap asertif menarik minat para perawat : (1) para perawat yang lebih menyukai sikap reaktif mungkin perlu lebih
mengenal dan mahir dalam ketrampilan dan bahasa yang lebih aktif berpartisipasi
dalam pekerjaan mereka. (2) mereka yang mendukung peran perawat yang professional
dan primer mungkin akan menemukan bahwa pelatihan sikap asertif akan berguna
untuk memungkinkan perkembangan sikap-sikap perilaku keperawatan
yang bertanggung jawab, serta ketrampilan komunikasi yang efektif, dan (3) para
professional keperawatan yang peduli pada pandangan masyarakat terhadap
keperawatan mungkin dapat menemukan cara untuk mengkomunikasikan sikap-sikap dan
harapan-harapan mereka dengan lebih jelas.
2.8 Tujuan Dari Pelatihan Sikap Asertif
Wheeler
(1977) menunjukan bahwa tujuan dari pelatihan sikap asertif adalah untuk
mengajar orang tentang bagaimana menggunakan hak mereka, untuk membantu mereka
dalam mengembangkan berbagai perilaku, dan untuk membantu mereka untuk
bertindak menurut minat terbaik mereka sendiri. Karena pelatihan sikap asertif
ini adalah metoda perilaku (bukan metoda yang berorientasi pada pemahaman),
maka tujuannya lebih bersifat induktif daripada deduktif. Tujuan dari banyak
bentuk psiko-terapi manusia : yaitu kemudahan dalam hubungan interpersonal;
keselarasan pikiran, perasaan, dan perilaku; dan kemampuan menerima tanggung
jawab atas tindakan seseorang serta untuk menerima akibat dari tindakan
tersebut.
2.9 Unsur – Unsur Sikap Asertif
Secara garis
besar, sikap asertif dapat terbagi menjadi dua unsure : verbal dan nonverbal.
Untuk di kategorikan sebagai asertif, sebuah komunikasi harus mengandung kedua
unsure ini.mungkin saja seseorang mengatakan semua kata – kata yang benar,
misalnya “Saya ingin anda mengembalikan baju yang anda pinjam”, tetapi ia
mengatakannya dengan cara yang agresif (tangan di pinggang, mata membelalak,
suara tinggi), atau cara yang pasif (suarakecil, mata sedih, nada memohon) sehingga penerima pesan merasa tersinggung atau tidak nyaman.
Agar semua pesan benar-benar asertif, kata-kata dan
irama di balik kata-kata harus
berjalan bersama. Misalnya, orang telah belajar bahwa kelemah lembutan tidak diungkapkan dengan nada
suara yang keras, bahwa pembicaraan intim tidak mengambil tempat di antara dua
orang yang terpisah 5 meter, dan bahwa marah tidak diungkapkan dengan
tersenyum. Sebenarnya, jika kata-kata dan irama tidak seiring maka akan sulitlah untuk mengetahui mana yang
harus di percaya. Akibatnya timbul kebingungan, dan respon yang wajar dari
pendengar pesan yang campur aduk ini adalah penghindaran diri, menarik diri,
marah atau beberapa bentuk jarak interpersonal lainnya.
a.
Unsur
Nonverbal
Serber (1977) menyebutkan bahwa unsure non-verbal dari perilaku adalah :
1) Kekerasan suara
Berteriak atau berbisik
bukanlah sikap asertif. Nada suara tidak tergantung pada isi pesan yang
dikirim. Nada yang asertif harus keras dan tegas sehingga terdengar dengan
jelas, tetapi tidak boleh terlalu keras sehingga memekakkan telinga penerima.
2) Kelancaran mengatakan kata-kata
Kelancaran mengatakan kata-kata juga tidaak bergantung pada isi pesan. Orang yang menggunakan terlalu
banyak penghentian atau kata-kata “pengisi” seperti “uh”, “er”, “huh”, “anda tahu”, “seperti”, dan
sebagainya cenderung dilihat sebagai orang yang ragu, sedangkan orang yang
bicara terlalu cepat sering di alami oleh orang lain sebagai orang yang terlalu
membebani. Yang asertif adalah kecepatan bicara yang sedang dan tidak terputus-putus.
3) Kontak mata
Tidaklah mungkin untuk menjadi
asertif bila tidak melihat kepada penerima yang di harapkan. Tanpa kontak mata,
tidaklah terdapat cara untuk mengukur sebuah respon, dan penerima pesan di paksa untuk masuk kepada pemberi pesan
supaya memberikan umpan balik komunikasi. Tentu saja, membelalak atau menatap
tajam adalah hal yang intrusive. Kontak mata yang asertif berarti bahwa
seseorang mampu memandang wajah penerima secara terus-menerus tetapi tanpa intensitas tertentu yang membuat penerima merasa
di tantang.
4) Ungkapan wajah
Orang yang terkekeh-kekeh saat marah atau mengerutkan dahi saat mengatakan sayang, akan
“mengkhianati” isi dari kata-kata mereka.
Bila merah, janganlah tersenyum; bila menunjukkan penghargaan, tersenyumlah.
Meskipun ungkapkan wajah sulit untuk di ukur atau di gambarkan, kebanyakan
orang telah tersosialisasi untuk mampu memilih ungkapan wajah yang cocok untuk
arti kata-kata mereka. Bila seseorang
tidak mampu untuk menyelaraskan kata-kata dengan irama, seringkali hal ini merupakan tanda dari rasa tidak
nyaman atau kecemasan; karena keselarasan dan kecemasan merupakan reaksi-reaksi eksklusif yang saling menguntungkan, maka menjadi selaras dapat
membantu mengurangi kecemasan.
5) Ungkapan tubuh
Seperti ungkapan wajah, cara
seseorang berdiri, duduk, atau bergerak sebenarnya menyampaikan sekumpulan
sikap yang kompleks. Seseorang yang duduk membungkuk dapat di lihat sebagai
marah, tidak berminat, atau ketakutan. Orang yang asertif dalam ungkapan
tubuhnya akan tampak santai tetapi tidak membungkuk, berdiri tegak tanpa menjadi
kaku, dan menggunakan tangan serta bahu untuk menekankan pembicaraan mereka
tanpa menjadi terlalu memaksa atau kasar.
6) Jarak
Seberapa jauh seseorang
berdiri dari orang lain ketika berinteraksi akan berbeda-beda dalam setiap kebudayaan dan setiap orang. Istilah gelembung telah di
terapkan untuk batas tidak kasat mata yang di gunakan oleh seseorang untuk
melindungi dirinya dari intrusi orang lain (Sommer, 1969).
b.
Unsur Verbal
Apa yang di katakan sama
pentingnya dengan bagaimana cara seseorang mengatakannya. Misalnya, kemungkinan
kecil bahwa seseorang yang membuat pernyataan atau permintaan yang tidak jelas
akan mendapat respon yang sesuai. Si pendengar belum tentu tidak responsive,
tetapi pesannya terlalu samar untuk mendapatkan respon yang jelas. Cooley dan
Hollandsworth (1977) telah menyebutkan tiga unsure verbal dari pernyataan yang
asertif :
1) Mengatakan tidak atau menyatakan sikap
2) Meminta bantuan atau mempertahankan hak
3) Mengungkapkan perasaan
Unsur verbal pernyataan yang asertif.
Mengatakan “tidak” atau menyatakan sikap
a. Posisi : Pernyataan, biasanya pro atau kontra tentang sikap seseorang tentang sebuah
isu atau respon seseorang terhadap sebuah permintaan atau tuntutan
b. Alasan : Pernyataan diajukan untuk menjelaskan atau membenarkan posisi, permintaan,
atau perasaan seseorang
c. Pemahaman : Pernyataan mengenali dan menerima posisi, permintaan, atau perasaan orang
lain.
Meminta bantuan atau mempertahankan hak
a. Masalah : pernyataan menggambarkan
suatu situasi yang tidak memuaskan yang perlu di rubah.
b. Permintaan : pernyataan meminta sesuatu
yang di perlukan untuk mengatasi masalah.
c. Penjelasan : pernyataan dirancang
untuk menghasilkan informasi tambahan atau spesifik tentang masalah yang
terlibat.
Ungkapan perasaan
a. Ungkapan pribadi : pernyataan
mengkomunikasikan emosi, perasaan, atau ungkapan yang cocok lainnya, seperti
ucapan terima kasih, kasih sayang, atau kekaguman.
Mengatakan tidak.
Pernyataan asertif dapat berupa inisiasi atau reaksi. Terdapat cara-cara untuk mengatakan tidak secara
asertif sebagai respon terhadap permintaan orang lain atau kebutuhan orang lain.
Menunjukkan sikap.
Unsur dari asertif ini bisa merupakan inisiasi atau respon terhadap suatu
situasi. Unsur kunci
pada area ini adalah kejelasan dari posisi seseorang, penghargaan diri dengan mana posisi tersebut di nyatakan, dan pemahaman tentang posisi orang
lain: “saya tahu
bahwa anda yakin Nona Lloyd sedang dalam pemulihan. Tetapi saya tidak yakin bahwa ia telah siap untuk di pulangkan, dan saya tidak
mendukung kepulangannya”.
2.10 Teknik
– Teknik Sikap Asertif
Kebanyakan orang bervariasi
dalam sikap asertifnya dari situasi satu ke situasi lainnya, dan derajat
keintiman yang di bagikan kepada orang lain juga berpengaruh pada variasi ini.
Mungkin saja seseorang dapa bersifat asertif dengan pasangan hidupnya, tetapi
berubah menjadi pendiam di hadapan mertuanya. Bisa juga bersikap asertif
terhadap orang asing lebih mudah dari pada harus membatalkan sebuah pertemuan
dengan temannya karena ingin tinggal di rumah. Salah satu perbedaan yang lebih umum dari sikap asertif di dalam diri
seseorang, dan bukan diantara beberapa pribadi, adalah pada bagaimana pemimpin
berespon terhadap bukan rekan kerjanya, yaitu mereka yang lebih berkuasa
terhadap mereka yang kurang berkuasa. Jika di tambah dengan unsure perbedaan
latar belakang pendidikan, maka akan dapat di mengerti bagaimana sikap asertif
dapat menjadi membingungkan dan sulit.
a.
Bersikap
Asertif Terhadap Figur Atasan
Banyak orang
di besarkan dan di didik untuk “menghargai yang lebih tua”mdan “mematuhi orang
tua”. Meskipun hal ini tidak mendapat tantangan pada masa kanak – kanak yang
masih bergantung pada orang tuanya dan guru, tetapi sikap ini bukan merupakan
nasihat yang tepat bagi orang dewasa yang harus mengarahkan dirinya sendiri dan
bertanggung jawab untuk hidup mereka. Jarang seseorang akan menyelamatkan anak
buah dari atasannya yang kejam,dan lebih jarang lagi bahwa seorang atasan akan
berubah hanya karena harapan anak buahnya. Anak buah harus menolong atasannya
untuk mengerti bahwa mereka bukanlah alas kaki atau anak – anak atau alat pasif
yang dapat digunakan untuk bermacam – macam hal. Meskipun kebanyakan atasan
atau pengawas perawat secara kognitif mengetahui hal ini, tetapi beberapa dari
mereka tidak mahir dalam relasi antar pribadi. Bersikap asertif terhadap atasan
atau pengawas dapat menjadi peringatan yang halus bahwa anak buah mempunyai hak
untul di perlakukan sebagai orang dewasa, meskipun atasan mempunyai posisi
kekuasaan lebih bayak tanggung jawab dan wewenangnya.
b.
Bersikap
Asertif Terhadap Anak Buah
Orang-orang belajar bagaimana menjadi pimpinan dan orang tua dengan memperhatikan
model peran. Jika nasib anda mujur dan menyediakan latihan – latihan yang baik
melalui pimpinan, manajer, orang tua, dan profesi pelayanan, maka keterampilan
interpersonal yang efektif akan tumbuh dan berkembang untuk selamanya,tetapi,
karena nasib tidak selalu mujur dan dalam saat – saat stress, akan mudah untuk
“menularkan” sikap agresif dan manipulatif yang kita pelajari di masa lalu.
Bila orang bersikap asertif terhadap atasan, akan lebih sedikit timbunan
kemarahan yang dapat tertumpah ketika berkontak dengan pegawai, pasien, dan
anak – anak; lebih dari itu,akan kecil kemungkinan untuk melupakan bahwa orang
lain yang mempunyai kekuasaan lebih kecil juga mempunyai hak untuk menentukan respon
mereka sendiri.
2.11 Komunikasi Agresif
Komunikasi ini dapat
mengurangi hak orang lain dan cenderung untuk merendahkan / mengendalikan /
menghukum orang lain. Komunikasi ini menenggelamkan hak orang lain. Contoh
komunikasi agresif : "Lakukan saja!".
Ciri-cirinya adalah :
1. Ingin kemauan dan pendapatnya diikuti
2. Memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang
tidak ingin dilakukan
3. Keras dan bermusuhan
4. Menyerang secara fisik atau verbal
5. Interupsi
6. Intimidasi
7. Ingin menang dengan segala cara
8. Suka memakai kambing hitam
9. Suka memakai figur "Big Boss"
Komunikasi
agresif memiliki satu buah sub yaitu Komunikasi Aggresif tidak Langsung yang
berupaya untuk memaksa orang lain melakukan hal yang kita kehendaki tetapi
mereka tidak menghendakinya. Istilah "pisau dibalik topeng senyuman"
mungkin cocok dengan komunikasi agresif tidak langsung karena cara-cara mereka
umumnya sopan, tenang, manipulative/menjebak, merendahkan orang lain, dan
sabotase. Orang yang melakukan aggressive communication mungkin pada awalnya
merasa puas, menang/superior dan cenderung untuk mengulangi tindakannya. Tetapi
untuk jangka panjangnya mereka dapat merasa bersalah (saat memikirkan
tindakannya), malu, dan ditinggalkan teman. Pada akhirnya akan terus
menyalahkan orang lain atau system. Balas dendam mungkin dapat dilakukan oleh
orang lain yang sebelumnya disudutkan.
2.12 Passive Communication
(Submissive)
Komunikasi ini merupakan lawan
dari komunikasi aggressive dimana orang tersebut cenderung untuk mengalah dan
tidak dapat mempertahankan kepentingannya sendiri. Bahkan hak mereka cenderung
dilanggar namum dibiarkan. Mereka cenderung untuk menolak secara pasif (dengan
ngomel dibelakang misalnya).
Ciri-ciri komunikasi pasif ini adalah:
1. Orang yang jarang mengungkapkan keinginan
dan kebutuhan atau perasaan
2. Mengikuti tuntutan dan kemauan orang lain,
ingin menghindari konflik
3. Tidak mampu mempertahankan hak dan
pribadinya
4. Selalu mengedepankan orang lain
5. Minta maaf berlebihan
6. Marah kecewa, frustasi dipendam
7. Tidak tahu apa yang diinginkan
8. Tidak bisa ambil keputusan
9. Selalu mencari-cari alasan atas
tindakan
Untuk jangka pendek,
komunikasi ini bisa mengakibat rasa lega, terhindar dari rasa bersalah, bangga,
dan kasihan pada diri sendiri. Namun untuk jangka panjang dapat kehilangan
percaya diri dan hormat pada diri sendiri.
2.13 Bahasa
Tubuh Untuk Tiga Jenis Komunikasi
1. Assertive
2. Aggressive
3. Pasif
Posture :
Tegak lurus
Condong ke depan
Agak mundur
Head:
Santai dan tidak kaku
Santai dan tidak kaku
Mendongak ke atas
Menunduk
Eyes :
Langsung, tidak melototi, pandangan bagus, biasa/santai
Melototi seolah-olah akan mengamuk
Tidak berani menatap.
Face :
Ekspresi sesuai kata-kata yang keluar
Tegas
Tersenyum selalu bahkan sewaktu kesal
Voice :
Sesuai dengan kontak
Keras
Ragu/lembut, cenderung berbicara setelah lawan selesai berbicara
Arms/hands :
Santai, bergerak bebas
Terkontrol, jari menunjuk menancap ke suatu objek, terkepal keras
Diam… tidak bisa bergerak
Movement/ walking :
Terukur, sesuai
Lambat dan keras atau cepat, bebas, Keras
Lambat dan ragu-ragu atau cepat tapi terkesan terburu-buru
Perilaku assertive memiliki
manfaat :
1. Meningkatkan percaya diri dalam mengekspresikan diri sendiri
2. Dapat bernegosiasi lebih produktif dengan orang lain
3. Dapat merubah situasi kerja yang negatif menjadi positif
4.
Meningkatkan
hubungan antar manusia pada pekerjaan dan mengurangi kesalahpahaman
5.
Meningkatkan
pengembangan diri dan kepuasan diri pada pekerjaan/karir sesuai dengan
kebutuhan, gaya dan kemampuan
6.
Mampu
membuat keputusan dan lebih mempunyai peluang mendapatkan apa yang dicari dalam
hidup
Hambatan yang didapat saat mencoba untuk assertive:
1.
Tindakan dan
cara berpikir negatif yg membatasi peluang Anda
2.
Conflict :
Takut menghadapi konflik sehingga menghindari tanggapan assertif dalam situasi
yang menentukan
3.
Keterampilan
komunikasi. Ketidakmampuan menanggapi berbagai situasi
mengakibatkan emosi, pikirkan dan kecemasan yang negative
4.
Race,
tradition, education sewaktu kita masih anak-anak
BAB III
ROLE PLAY
Perawat :
M.Trias Ginanjar
Kepala Ruangan :
Diah Puji Lestari
Dokter :
Anugrah Dwi Priyono
Pasien :
Cep Lubis
Istri Pasien :
Siti Aminah
Ø Prolog
Seorang
Kepala Ruangan bernama Diah yang sudah bekerja lama dirumah sakit swasta, yang
sudah memimpin ruangan dahlia selama 3 tahun, ia mempunyai ciri kepemimpinan
asertifitas. Setiap pagi ia selalu mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang ada
dengan cara bekerja sama dengan tim medis lain, agar ruangan tersebut lebih
terasa kondusif. Selain itu ia sering mengadakan pertemuan berkala dengan
perawat ruangan lainnya yang berada di wilayah tanggung jawabnya, agar setiap
permasalahan bisa teratasi dan dibicarakan dengan baik. Bukan hanya dengan tim
kerja lainnya, ia selalu memberikan pendekatan kepada setiap pasien yang
dirawat untuk mengetahui keadaannya dan menampung keluhan serta membantu
memecahkan masalah yang dihadapinya.
Pagi itu di ruang perawat
Kepala
ruangan : pagi kang, akang yang dines
pagi ini?
Perawat : iya teh, pagi, saya yang
dines pagi disini sekarang.
Kepala ruangan :
ohh iiya, kemarin saya mengadakan pertemuan dengan perawat perawat yangn
bertugas diruang ini, untuk agar lebih kondusif saya membagi bagi ruangan pada
setiap perawat, saya sudah membagi ruangan kepada perawat yang lain untuk
memegang ruang dahlia kamar 1 dan kamar 3, dan saya menempatkan akang di ruang
dahlia kamar 2, kemarin kan akangnya tidak ada, jadi saya balum sempat membari
tahu. Bagaimana? Apakah akang bisa terima dengan pembagian ruangan ini?
Perawat :
oh iya teh, saya sangat menerima dengan pendapat teteh tentang pembagian
ruangan, karena kita dapat lebih focus dengan pasien pasien kita.
Kepala ruangan :
iya terima kasih kalau akang sudah menyetujui, masukan saya.
Perawat :
iya teh.
Dan ketika itu di sebuah
ruangan dahlia kamar 2 ada pasien yang bernama Tn.X ia demam sudah berhari-hari
demam tinggi, dan Tn.X di bawa ke rumah sakit tadi malam tetapi demam itu masih
belum juga menurun.
Pagi itu di ruang pasien
Pasien : bu,, ibuuu, panas bu
Istri pasien : iya pak, bapak kenapa?
Pasien : panas bu,
Istri pasien : ya ampun pak koq makin panas
gini ya pak? Ibu kompres ya?
Pasien : iya bu.
Lalu tiba-tiba dokter dan
perawat datang ke ruang pasien untuk visit
(tok… tok…
tok)
Dokter : assalamualaikum pak , bu
bagaimana keadaannya bapak sekarang?
Istri pasien :
walaikumsalam dok, ini sepertinya panasnya belum juga turun dok,dari semalam
suami saya juga tidak dapat tidur karena panasnya.
Dokter :
coba saya periksa dulu ya pak.
Pasien :
iya dok
Istri pasien :
bagaimana keadaan suami saya dok?
Dokter :
demamnya sangat tinggi bu,saya akan memberikan resep obat untuk bapaknya untuk
menurunkan demamnya.
Dokter :
kang demam pada Tn.X ini sangat tinggi, nanti saya akan resepkan obat nya
tolong di berikan ya.
Perawat :
baik dok. Lalu sekarang tindakan apa yang mesti diberikan dok?
Dokter :
kita bicarakan saja di ruang perawat
Perawat :
ohh iya dok, kalau begitu kita pamit kembali ke ruangan dulu ya bu, pak, nanti
saya kembali lagi untuk memberikan obat.
Di ruang perawat
Kepala
ruangan : bagiamana kondisi
pasien-pasien sekarang?
Perawat :
iya pasien yang lain sudah lebih baik, Cuma tadi malam ada pasien baru, bapak
itu demam, dan sampai sekarang demamnya belum berkurang.
Kepala ruangan :
oh begitu, akang dah coba buat kompres?
Perawat :
tadi waktu saya dan dokter ke ruangan Tn.X sedang di kompres oleh istrinya.
Tapi ketika diperiksa suhu tubuhnya masih juga belum turun.
Kepala ruangan :
emmm dok bagaimana ini dengan pasien Tn.X, apakah sebaikknya kita cepat berikan
obat?
Dokter :
iya teh, ini saya sudah meresepkan penurun panasnya, dan nanti akang tolong
berikan ya pukul 9.30.
Perawat :
iya baik dok.
Dokter :
baik kalau begitu saya pamit ke ruangan lain dulu.
Kepala ruangan :
iya dok terima kasih
Pukul 9.30 waktunya perawat
memberikan obat yang sudah di resepkan oleh dokter untuk Tn.X.
(tok..tok..tok)
Perawat :
assalamualaikum pak, bu.
Pasien dan istri :
walaikum salam kang.
Perawat :
bapaknya masih panas ya bu ya, sekarang waktunya bapak untuk minum obat ya,
agar demamnya cepat reda.
Pasien :
iya
Perawat :
ini diminum dulu pak.
Perawat :
sudah pak? Kalau begitu silahkan lanjutkan lagi pak, saya pamit ke ruangan
dulu, nanti saya akan kembali lagi untuk melihat keadaan bapak. Saya permisi
dulu ya pak, bu, asslamualaikum.
Istri pasien :
waliakumsalam
Pukul 10.00 terlihat di ruang
perawat sedang ngobrol antara perawat dan kepala ruangan
Kepala ruangan :
kang sakarang kita ke ruangan dahlia kamar 2, kita cek kondisi, Tn.X.
Perawat :
iya kang ayo.
Perawat dan kepala ruangan tiba diruang pasien
Perawat :
assalamualaikum
Kepala ruangan : selamat siang pak, bu..
Pasien : siang
Kepala ruangan : bagaimana
perasaannya sekarang?
Istri Pasien : bengini , dari subuh
tadi demamnya belum turun juga.
Kepala ruangan : demamnya
masih lumayan yah, suster pasien ini sudah diberikan obat?
Perawat : sudah teh, obatnya
baru diberikan tepatnya jam 9.30 tadi
diberikan obat yang termasuk penurun panas 1 tablet, sesuai yang telah dokter resepkan.
Kepala ruangan :
ibu bapaknya masih sedikit panas ya bu ya? (sambil memegang pasien)
Istri pasien :iya ni kasihan suami saya tidak
bisa istirahat.
Kepala ruangan : begini
ibu, ini kan obatnya sudah diminum jadi kita lihat hasilnya, obatnya baru
bekerja jika 5 menit – 1 jam berbeda dengan obat injeksi atau suntik yang
terbilang cepat. Sambil menunggu reaksi obatnya ibu bisa mengompres suami ibu dulu dengan air hangat.
Istri pasien :iya saya
sudah kompres di dahinya
Kepala ruangan : jangan
Cuma di dahi ibu, ini akan lebih berpengaruh jika ibu kompresnya dibawah kedua
ketiak atau perut. Dan ini juga kopresnya harus sering-sering diganti.
Bagaimana menurut pendapat akang?
Perawat :saya rasa
juga begitu teh. Lebih
berpengaruh jika dikopres di bawah kedua ketiak atau perut dari pada di
dahi.
Kepala ruangan : kalau
begitu saya ambil dulu alatnya ya bu,
untuk mengompres bapaknya.
Istri pasien : iya ,terima kasih
banyak.
Kepala ruangan :akang nanti minta tolong pasien ini diawasi yah kalau bisa dibantu
diarahkan cara kompresnya
Perawat : iya teh
Kepala ruangan : mari kita
siapkan, permisi dulu ya bu pak, assalamualaikum
Pasien & istri pasien: walaikumsalm.
Dan akhirnya sesuai pendapat kepala ruangan untuk mengompres Tn.X di bagian
bawah ketiak dan perut, tindakan pun telah dilakukan, dan pasien bisa lebih
tenang, dan bisa beristirahat
TAMAT
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Komunikasi Asertif adalah komunikasi yang terbuka, menghargai diri sendiri
dan orang lain. Komunikasi Agresif Komunikasi ini dapat mengurangi hak orang
lain dan cenderung untuk merendahkan / mengendalikan / menghukum orang lain.
Komunikasi ini menenggelamkan hak orang lain.
Tujuan dari pelatihan sikap asertif adalah untuk
mengajar orang tentang bagaimana menggunakan hak mereka, untuk membantu mereka
dalam mengembangkan berbagai perilaku, dan untuk membantu mereka untuk
bertindak menurut minat terbaik mereka sendiri. Terdapat beberapa alasan
mengapa pelatihan sikap asertif menarik minat para perawat: (1) para perawat
yang lebih menyukai sikap reaktif mungkin perlu lebih mengenal dan mahir dalam
ketrampilan dan bahasa yang lebih aktif berpartisipasi dalam pekerjaan mereka.
(2) mereka yang mendukung peran perawat yang professional dan primer mungkin
akan menemukan bahwa pelatihan sikap asertif akan berguna untuk memungkinkan
perkembangan sikap – sikap perilaku keperawatan yang bertanggung jawab, serta
ketrampilan komunikasi yang efektif, dan (3) para professional keperawatan yang
peduli pada pandangan masyarakat terhadap keperawatan mungkin dapat menemukan
cara untuk mengkomunikasikan sikap – sikap dan harapan – harapan mereka dengan
lebih jelas.
4.2 Saran
a. Perawat harus mampu menguasai teknik-teknik asertif agar komunikasi yang
dihasilkan antara perawat dan klien lebih berkualitas.
b. Untuk menghindari konflik yang berkepanjangan, seorang perawat tidak boleh
bersikap pasif maupun agresif tapi harus bersikap asertif.
DAFTAR PUSTAKA